Tuesday, March 27, 2012
Apa yang dikeluhkan oleh animator di Indonesia? Kekurangan cerita menarik untuk menghidupkan animasi.
Keluhan tersebut sering terdengar dalam forum maupun workshop animasi. Tidak jarang karakter menarik yang dilahirkan oleh animator menjadi tak berarti dan tidak melakukan apa-apa karena belum dihidupkan dengan cerita yang menarik. Ibarat anak wayang, karakter tersebut tergeletak dalam kotak dan tak mampu beraksi.
Seperti diketahui, begitu banyak animator hebat dalam negeri yang telah memproduksi trailer menarik dengan tokoh yang secara visual tidak bisa disebut sebagai karya biasa. Tapi, sangat disayangkan, tokoh itu menjadi kurang memiliki greget karena tak didukung cerita yang menggelitik.
Coba saja Anda tengok situs video internet YouTube atau Vimeo, begitu banyak animasi anak bangsa yang membanggakan dan tidak kalah dari animasi luar negeri. Namun, karya itu hanya menjadi tontonan gratis tanpa mampu bersaing dalam industri animasi. Dengan kata lain, produk animasi tersebut tak bisa dijual hanya gara-gara tidak memiliki cerita atau story yang menggigit. Jika pun ada, cerita yang muncul kurang nendang, tidak memiliki plot yang apik dan nilai dramatik yang kuat. Bahkan, kebanyakan masih berorientasi ke idealisme animator.
Menurut penggiat animasi dan juga pendiri Digital Global Maxinema, Achmad Rofiq, hingga hari ini masih belum ada cerita animasi Indonesia yang menarik untuk dijadikan referensi. Belajar dari serial Upin Ipin--produk animasi Malaysia yang mampu merebut hati anak-anak Indonesia--misalnya, "Kita bisa melihat kekuatan karater yang unik, plot yang kuat, dan kemampuan pencerita mengangkat tema-tema yang sederhana," kata Rofiq.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahan itu? Masih menurut Rofiq, "Jawabannya tentu saja mencari penulis cerita atau story teller yang mampu bersinergi dengan animator. Sebab, animator kita kadang asyik bermain dengan dirinya sendiri tanpa mau belajar untuk membuat cerita menarik yang mampu merebut hati dunia industri. Padahal, dengan kelemahan bakat animator membuat cerita, sang animator sebenarnya dapat bergandengan tangan dengan penulis cerita. Dengan begitu, tidak ada lagi tokoh atau karakter yang dilahirkan oleh animator hanya beraksi untuk sekuel pendek karena tidak ada 'penggerak' yang mampu menceritakan perjalanan sang tokoh."
Memang, akan banyak tantangan baru ketika animator bekerja bareng dengan penulis cerita yang merupakan penulis naskah untuk live action. Tapi, dengan belajar bersama, penulis cerita akan memahami prinsip-prinsip animasi yang diperlukannya. Sebaliknya, animator juga akan mengetahui prinsip-prinsip penulisan cerita, dari bagaimana membuat tema, mengatur plot, menguatkan dramatik, sampai memberi unsur-unsur komedi yang muaranya akan memberi daya hidup pada karakter yang dicipta. "Pengalaman kami di studio Digital Global Maxinema (DGM), misalnya, telah mampu melahirkan beberapa produk animasi dengan cerita serial yang sebelumnya tak mampu kami penuhi. Itu semua berkat DGM--yang sebagian awaknya adalah animator--bersinergi dengan pencerita atau penulis naskah yang kami anggap mampu menghidupkan karakter yang sama-sama kami ciptakan," jelas Rofiq.
Rofiq melanjutkan bahwa penulis naskah di Indonesia hampir bisa dikatakan tak ada yang mengkhususkan diri pada penulisan animasi. Tapi, dengan bergandengan tangan dengan, paling tidak animator dan penulis cerita bisa lebih memiliki pilihan dalam membangun dunia khayal secara bersama-sama atas dasar cerita yang mereka bangun bersama. "Tentu saja, sekali lagi saya katakan, penulis live action membutuhkan pembelajaran dari animator untuk tahu paling tidak prinsip-prinsip dasar animasi agar penulis yang bersangkutan lebih paham dan berdaya dalam mengembangkan imajinasinya. Supaya penulis naskah atau pencerita juga tidak asal membuat cerita yang jauh dari nilai dan prinsip-prinsip animasi," papar Rofiq.
Hasilnya, dari beberapa festival animasi, karya kerja bareng antara penulis cerita dengan animator mampu merebut prestasi dan layak untuk menjadi produk komersial. Seperti Songgo Rubuh, yang meraih sebagai The Best Animation di HelloFest 8 di Jakarta beberapa waktu lalu dan diminati oleh produser televisi luar negeri. Bahkan, serial lainnya, Kukurock You, sekarang juga telah memasuki beberapa episode dan memberi kesempatan bagi banyak animator, terutama lulusan SMK animasi.
Sumber : Hellomotion
.http://entertainment.kompas.com/read/2012/03/11/09221876/Agar.Animasi.Hidup.Animator.dan.Penulis.Cerita.Harus.Bekerja.Bareng
Character Designs for Kid-friendly Cartoons
Here are some effective character guides which you can use for your characters to appeal to the kids – particularly the demographic of the toddler years. These characteristics can be used to help children identify with your characters:
1. Cute and cuddly. This one never gets old. Of course, children will always prefer huggable characters which they can turn into their pillows and playthings compared to hideous and scary lead characters. The point in creating a lovable cartoon charcter is to let them relate with the children – and we all know how cute and cuddly kids are.
Moreover, to get a maximum impact for the cuddly designs of your lead cartoon characters in mind, have them possess vibrant colors in their clothes. Cartoons, after all, are always about keeping the attention span of children and what better way to do that than attractive colors. Examples of enduring cartoon characters which perfected the cute-and-cuddly template are Winnie the Pooh and the Teletubbies.
Here is an example of a cute and cuddly cartoon animation series for pre-schoolers, Katakune. Created by our team here in the 3D animation studio, Mediafreaks:
2. Perky. This does not have to resort to the realm of slapstick. Characters which are perky and which possess a high energy level are more than likely to get the attention of kids. Dora the Explorer perfected this peg. Characters who are always happy will not only attract children, they can also teach them valuable lessons such as being optimistic.
3. Courageous. Adventure narratives are always a hit with children and a good way to teach them the virtues of self-reliance and perseverance is to come up with characters who glow with courage in such obstacle-ridden situations. Characters who do not fold in times of adversity will help show children that they should do the same. Of course, for toddlers any message is not easily conveyed – but at least it exposes them to the right values.
Our 3D animation studio team here at Mediafreaks tried this character peg with our lovable team of pooches led by the courageous Sedo Dog:
4. Friendly. Lead characters who are friendly exhibit plenty of positive social skills which toddlers will eventually need as they first step into pre-school. Simple tasks such as greeting a friend, helping them out during difficult times and having fun with a group of friends will help imbibe to kids the value of interaction. This will help them avoid the pitfalls of being a loner or of being too selfish. This also helps nip the causes of bullying in the bud.
These are just guides to a lovable character. If the characters you create become successful to children worldwide, it can open doors of opportunities for character licensing deals for your intellectual properties. This is how you can assure the longevity of your cartoon animated series.
It surely helps to put one’s self in the shoes of children. After all, children does not know how it feels like to be an adult – but adults have no excuse forgetting the feeling of childhood (except maybe if they are like Benjamin Button).
But in any case, knowing that cartoons can greatly contribute to the growth of a child should be a motivation for animators to give their best to their craft.
Brand Licensing Discusses Character Licensing
Character licensing galore:
Talking about the licensing industry, Rajiv Sanghari said that entertainment/character licensing is the strongest vertical in the licensing business. “This vertical continues to be the strongest in the licensing business maintaining a 45% share in the market followed by trademarks/brands at 17% and fashion category at 15%.
Fido-the licensing biz hero:
Munjal Shroff, whose company Graphiti Multimedia has tied-up with Joanna Ferrone (creator of Fido Dido, popular as 7UP’s brand mascot) and is creating content around it, said that that the peppy and cool character was still popular with brands and consumers, attracting a lot of licensees.
Sharing a brief background about Fido and how it was created he said, “Fido is known as a huge trademark success throughout the US, Europe and Asia and is present in several categories such as apparel, shoes, stationary, accessories, soft drinks, etc.”
Fido was a case of enormous success for PepsiCo in the 80′s and still being used on the 7UP’s cans and advertisements in Argentina, Chile, Greece, UK, Ireland and India, amongst many other countries.
Key to successful licensing strategy:
Extend Brands’ Mayuri Pitale, whose company represents Popeye and many other characters, highlighted the key to a successful licensing strategy. She highlighted the need to identify the USP of the property and evolve with the target group, to continue building the property over the years and to strategize according to the product life cycle of a certain brand.
Animation Storylines that Appeal to Kids
Animation Storylines that Appeal to Kids
Cartoons always have a special place in the heart of kids for its captivating colors and lovable characters. However, what separates the classic cartoon shows from all the lame pretenders is the quality of its storylines. This is what defines the cartoon series, whether it is a TV show or an animated movie. Thus, it is important to craft compelling plots with the following characteristics:
Adventure. Children has always been associated with curiosity and a storyline revolving around adventure will definitely satisfy this yearning for kids. Quests and voyages in fantastic worlds will not only excite the curiosity of children, they can be able to capture their vivid imagination.
There are different kinds of adventures which an animation content provider can always choose. Throughout the years, the often used device for adventure episodes are quests wherein the cartoon protagonists will venture out of their comfort zones to search for an important or missing item or person.
To develop the adventure plots, animation writers and even the storyboard artists should seek to develop obstacles which are challenging yet unique and fun nonetheless. Opt for visually-appealing landscape detour challenges for the cartoon characters to meet along the way. As content providers, you should imagine a distinct world for your cartoon show and let the child viewers experience this world. Kids should feel as though they can enter this world and experience the adventures of the characters as well.
Camarederie. The most famous animation characters in the world today such as Mickey Mouse, Pikachu and Garfield, to mention a few, maybe renowned as singular units. But these characters derive most of their value through plots and storylines involving their friends. The most effective way to show the depth of your superstar animation characters is to depict their interactions with their friends.
Craft stories which will be more effective when there are three or four characters helping each other to achieve the goals of the episodes. One of the more lovable parts of a cartoon series is watching its characters interact, help and play with each other. After all, what are memorable movie and TV show quotations but dialogues of well-loved characters with each other?
Camaraderie is an effective device to use in animation storylines as this will help show children that there is a whole world out there which can be shared with friends. Moreover, this will help children learn the virtues of unity and selflessness.
Good Versus Bad. This is one of the classic animation narrative techniques which never gets old for children: a black-and-white battle between good and bad. Create plots which kids can clearly differentiate who the heroic characters are from the antagonists. Once this is in order, organize scenes wherein the child viewers will side with the good guys. Compelling plots wherein the viewers would tune in to find out if the good guys will win is a tried-and-tested formula. Just recall how much you’ve rooted for Spongebob Squarepants for him to remain victorious over Squidward. These are the same dynamics which should be the goal of animation storylines.
It is important to make the antagonists not so evil, as some kids may emulate them. Also, remember to keep violence in check. It is the challenge for animation writers and storyboard artists to capture the attention and imagination of the viewers even without exploding pyrotechniques and violent scenes.
Moreover, since content providers have the opportunity to enrich the animation storyline, make sure that important values such as honesty, truthfulness and kindess become inculcated in the stories as moral values. Remember that cartoons go a long way in the development of a child. If you are behind the production team, simply ask yourself if you would want your child to watch the cartoon shows you are creating. Animated characters from excellent storylines are those that succeed in global character licensing.http://blog.media-freaks.com/animation-storylines-that-appeal-to-kids/
Sunday, December 12, 2010
Pasar atau Kepuasan
Animasi dilihat dari sisi kebutuhan ada dua macam yaitu animasi eksperimental dan animasi komersial. Animasi eksperimental biasanya tidak menganut asas-asas produksi film animasi. Pembuat animasi eksperimental lebih mementingkan unsur kepuasan terutama setelah proses pembuatannya berhasil diselesaikan dengan cara dan metode baru yang dia ciptakan. Karena untuk kepuasan pribadi maka animasi eksperimental terkadang tidak memiliki cerita yang jelas, karakter dan bahan yang digunakan-pun terkadang tergolong aneh, misalnya dari rumput, pasir, bahan kimia dan lain sebagainya serta dengan metode pengambilan gambar yang unik misalnya, kamera foto analog, kamera Lomo, kamera HP dan lain-lain. Meskipun dibuat untuk kepuasan pribadi kadang animasi jenis ini biasanya diikutkan festival dan pameran animasi sebagai bahan apresiasi publik.Sedangkan animasi komersial biasanya menganut prosedur-prosedur, alat, dan metode pembuatan animasi yang umum. Animasi komersial dibuat berdasarkan kebutuhan penonton bukan untuk kepuasan sendiri.
Saturday, September 25, 2010
ra Disney adalah wanita keturunan Amerika – Jerman. Walter Disney adalah salah satu dari lima bersaudara keluarga tersebut.Sejarah Animasi Dunia
SEJARAH ANIMASI DUNIA
Kita mengenal animasi kebanyakan dari karya-karya besar Walt Disney yang diputar di televisi kesayangan kita atau dari layar boskop seperti Mickey Mouse, Snow White, Peter Pan, Bambi, Sleeping Beauty, Beauty and the Beast, Lion King, Pocahontas, Winnie the Pooh dan lain-lain atau karya-karya populer dari studio Warner Bros seperti film Toy Story yang telah menjadi cikal bakal animasi modern atau animasi komputer atau bahkan karya paling fenomenal dari studio dreamworks yaitu film Shrek.
Tapi jauh sebelum karya-karya tersebut tercipta, kita harus tahu kapan dan bagaimana dimulainya ide manusia untuk menggambar animasi itu dimulai.
Adapun rentetan sejarah singkat perkembangan animasi dunia adalah sebagai berikut :
- Sekitar 30.000 tahun yang lalu, manusia saat itu dudah mempunyai usaha untuk membuat gambar yang mencerminkan suatu proses gerak. Pada lukisan di dinding gua Altamira di Spanyol memperlihatkan gambar binatang sedang berlari. Kesan gerak didapat dengan menumpukkan gambar kaki binatang tersebut sehingga jumlah kaki terlihat 6-8 kaki.
- Satu dari (karya) tertua tentang pelukisan gambar gerakan ditemukan pada masa 1600 SM di Yunani. Misal pada dekorasi Partenon (berbentuk) relief yang melukiskan rangkaian/rentetan penari yang tampak bergerak dengan pertambahan kecepatan dan perubahan posisi.
- Pada tahun 1671, Athanasius Kircher membuat suatu gebrakan dengan menciptakan sebuah alat yang merupakan cikal bakal dari kamera proyektor. Alat ini dia sebut sebagai “Magic Lantern”.
- Seorang berkebangsaan Jerman, Pieter Van Musschenbroek pada tahun 1736 disebut sebagai orang pertama yang membuat gambar animasi.
- Tahun 1824, Peter Roget memperkenalkan “The Persistence of Vision”, sebuah alat untuk menggerakkan gambar.
- Pada tahun yang sama ditemukan sebuah alat bernama “Thaumatrope” yang oleh sebagian pakar sejarah animasi disebut sebagai rancangan John Aryton Paris. Akan tetapi oleh sebagian a
hli yang lain alat tersebut ditemukan oleh Charles Babbage.
- Tahun 1832, sebuah alat yang dinamakan Phenakistoscope dikenalkan oleh Dr. Simon Ritter. Alat ini juga berfungsi membuat ilusi gambar yang diputar.
- Pada tahun 1834, george Horner menemukan alat yang dinamakan “Zoetrope”. Alat ini berbentuk silinder yang dikelilingi oleh gambar sekuensial berurutan. Sehingga apabila diputar, kita akan melihat suatu ilusi gerak.
- Pada tahun 1868, John barnes Linnet telah mematenkan sebuah media untuk membuat ilusi gerakan gambar yang disebut “Flip Book”. Alat ini sampai saat ini masih sering dipraktekkan oleh seniman animasi sebagai langkah awal untuk belajar animasi sebelum masuk pada langkah animasi komputer.
- Tahun 1872, Eadweard Muybridge memulai bereksperimen dengan kumpulan foto binatang yang berurutan gerakannya.
- Pada tahun 1877, sebuah alat yang dinamakan Praxinoscope dikenalkan oleh Emile raynaud. Alat ini merupakan perkembangan dari “Zoetrope” yang lebih disempurnakan. Dengan sebuah cermin, ilusi gerakan dari rentetan gambar akan bisa dilihat. Kemudian oleh Renaud, alat ini dikembangkan lagi menjadi sebuah alat yang dia sebut sebagai “Theatre Optique”.
- Pada tahun 1889, sebuah alat yang dinamakan Kinetoscope ditemukan oleh Thomas Edison dengan menyusun 50-an frame film yang diputar selama 13 detik.
- Sejarah pertunjukan film animasi dimulai pada tanggal 28 Oktober 1892 saat Emile Reynaud memutar film bisunya yang terdiri dari 500 frame gambar dengan menggunakan Theatre Optique di Museum grevin – Paris – Prancis.
- Adapun pembuatan produksi animasi standar dimulai pada tahun 1906 oleh tokoh yang bernama J. Stuart Blackton. Dia memperkenalkan teknik merekam gambar-gambar dari kapur tulis yang berjudul Humorous Phases of Funny Faces.
- Pada tanggal 17 Agustus 1908, Emile Cohl pertama kali mempertunjukkan filmnya didepan pemuka-pemuka kerajaan Prancis tepatnya di Theatre Du Gymnase di Paris – Perancis. Kemudian Emile Cortet (sebutan lain emile cohl) pergi ke Fort Lee, New Jersey dekat kota New York untuk bekerja di studio Eclair dan dia dapat mengembangkan berbagai teknik animasi di kota itu, termasuk pada tahun 1910 dia mengembangkan Cut Out animation yang sedikit memudahkan para animator dalam berkarya.
- Tahun 1911, Winsor Mc Cay memproduksi film animasi berjudul “Little Nemo” yang dikembangkannya dari komik strip.
- Adapun film animasi boneka pertama dikenalkan oleh Wladyslaw Starewicz pada tahun 1912. Film karya warga kebangsaan Rusia ini diberi judul The Beautiful Lukanida.
- Pada Tahun 1914, Film animasi Gertie, The Trained Dinosaur dibuat oleh Winsor McCay. Film ini membutuhkan 10.000 frame gambar.
- Pada tahun 1915, Earl Hurt memperkenalkan teknik animasi dengan menggunakan sel.
- Pada tahun 1917, Quirino Cristiani mengenalkan film animasi berdurasi panjang pertama yang berjudul El Apostol. Warga negara Argentina ini juga menyutradarai film panjang berikutnya pada tahun 1031. Film tersebut berjudul Peludopolis.
- Tahun 1920, Pat Sulivan Studio memperkenalkan karakter Felix The Cat.
- Pada tahun 1926, Lotte Reiniger memperkenalkan film animasi bergaya siluet yang berjudul Adventures of Prince Achmed. Film ini lebih mirip seperti wayang kulit yang memproyeksikan bayangan sebagai ilusi visual.
- Tahun 1927 Walter Disney menghasilkan film animasi pertama “Steamboat Willie” dengan watak utamanya Mickey Mouse. Film tersebut masih belum menggunakan suara. Pada tahun 1928 film tersebut sudah dipertontonkan dengan suara.
- Tahun 1930, Studio Warner Bros berdiri. Film pertamnya adalah Sinking In the Bathtub dengan karakter bernama Bosko.
- Film Snow White and the Seven Dwarfs diperkenalkan oleh studio Walt Disney pada tanggal 21 Desember 1937. Film ini sudah menggunakan teknologi “Technicolor” dan telah menggunakan dialog berbahasa Inggris dan musik. Film ini membutuhkan sekitar 477.000 gambar lukisan.
- Pada tahun 1938 Disney bergerak serius dengan menghasilkan film animasi “Cinderella” yang kemudiannya, membuka lembaran baru kepada industri animasi dunia. Kejayaan ini mendorong penerbit hampir semua negara di dunia menghasilkan film.
- Tahun 1940, Studio MGM’s memperkenalkan karakter Tom And Jerry. Penciptanya adalah Hanna Barbera.
- Tahun 1957 ASIFA (Association International Film Animation) didirikan di Perancis, asosiasi ini bergerak dibawah naungan UNESCO. Pada awalnya memiliki 1.700 anggota dari 55 negara.
- Tahun 1961, animasi Jepang Pertama berjudul Tetsuwan Atom/ Astro Boy ditayangkan di TV. Film ini diluncurkan oleh Mushi Production.
