Monday, May 7, 2012

Menuai Untung dan Prestasi dari Film Animasi

Jumat, 03 Pebruari 2012

Royas Amri (kiri,) Rofiq (kanan) saat pameran SME Kuala Lumpur-2011
Kemampuan berimajinasi tak hanya mendatangkan prestasi bagi Achmad Rofiq. Beragam ide dan fantasi yang dituangkan dalam film animasi telah menjadi bisnis dengan keuntungan besar.

Achmad Rofiq mengawali kariernya di industri kreatif dengan melahirkan CV Kdeep Animation pada pertengahan 2005. Bersama teman kuliahnya, Rofiq yang ketika itu berstatus mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang, mulai menggarap film animasi.

Karya pertamanya berjudul Bio Zone dibuat pada 2005. Setahun kemudian, film kedua, A Kite, lahir. Film ini diikutsertakan dalam Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) dan masuk sebagai finalis. Pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008, A Kite mendapat penghargaan khusus sebagai film animasi terbaik.

“Untuk Bio Zone memang tidak untuk dipublikasikan, tetapi setelah itu hampir seluruh karya saya dapat dinikmati umum,” ucap Rofiq.  Tidak hanya di dalam negeri, film-film produksi Kdeep Animation juga berkiprah di luar negeri, antara lain di festival Europe on Screen (EOS) dan Japan Asia Graph. 

Menggeluti dunia animasi tidak lepas dari bakatnya menggambar. Ketika duduk di bangku SD dan Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), dia sering mengikuti lomba menggambar. Namun, kegiatan tersebut jarang dilakukan ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA) di Ponpes Miftahul Ulum, Kelurahan Kebon Agung, Kota Pasuruan. Barulah ketika kuliah,  hobi mencorat-coret kertas dilakukan lagi olehnya.

Kendati demikian, dia tidak langsung menekuni dunia animasi. Apalagi orang tuanya menginginkan dia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) selepas lulus kuliah. Rofiq baru tergerak membuat film animasi setelah tidak puas dengan ilmu desain pada perkuliahan. Setelah film pertama lahir, karya demi karya pun akhirnya dihasilkan.

“Karya-karya kita yang lain di antaranya Baby Dian, Catatan Dian, dan Kuku Rock,” ujarnya. Kepiawaian di bidang animasi ini pula yang membawa Rofiq mendapat penghargaan Pemenang I Wirausaha Muda Mandiri 2010 kategori Mahasiswa Program Pascasarjana dan Alumni bidang Industri Kreatif yang digelar Bank Mandiri.

Bergelut di dunia kreatif bukannya tanpa tantangan. Menurut dia, di Indonesia produksi film animasi kurang  mendapatkan dukungan pemerintah. ”Padahal kalau mau berbicara tentang industri kreatif, produksi film animasilah salah satu objeknya,” jelasnya.

Dia mengatakan, untuk membuat sebuah film animasi dibutuhkan waktu lima hingga enam bulan, bahkan sampai setahun. Proses produksinya pun juga melibatkan banyak pihak, mulai dari penulis naskah, sutradara, dubber, editor, dan tenaga terampil lainnya. Lebih dari itu, film animasi juga membutuhkan dana besar. Di sisi lain, dukungan dari pemerintah belum begitu terlihat. “Modal awal kita Rp50 juta. Setiap menang dalam perlombaan hadiahnya kita buat untuk menambah peralatan kerja,” katanya.

Mengikuti ajang Wirausaha Muda Mandiri, menurut Rofiq, menjadi salah satu stimulus keberhasilan usahanya. Selama 2011, misalnya, dia menerima banyak bimbingan dan pembinaan dari Bank Mandiri tentang bagaimana meningkatkan usaha. Lewat program ini, dia juga bisa mengikuti pameran di Singapura dan Malaysia.

“Banyak pengalaman diperoleh saat mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri. Yang penting sekarang ini saya merasa lebih percaya diri setelah bekerja sama dengan Bank Mandiri,” ungkap dia.

Seiring pertumbuhan usahanya, pada 2011 Kdeep Animation diubah menjadi PT Digital Global Maxinema (DGM). Jenis usaha yang ditekuninya pun semakin beragam, mulai dari pembuatan iklan, company profile, serial film animasi untuk tayangan televisi, termasuk pembuatan video klip. Salah satu video klip yang sudah dikerjakan milik grup band Padi berjudul Yang Terluka.

“Karena tuntutan bisnis yang terus berkembang itupula alasan kita pindah kantor,” kata dia. Rofiq menuturkan, semula kantor Kdeep Animation berukuran kecil di Jalan Candi Mendut Selatan No 6 Kota Malang, sekarang di Jalan Kebon Jeruk V No 9, Kota Malang. Rofiq kini juga memimpin 15 orang karyawan.

Tidak hanya itu, selama enam tahun menjalankan usaha, tahun lalu PT DGM meraup omzet Rp1 miliar per tahun. Pada tahun ini Rofiq menargetkan omzet perusahaannya mencapai Rp5 miliar. “Peningkatan kinerja perusahaan ini berkat pembinaan Bank Mandiri,” ujarnya.

Yang membanggakan lagi, selain kantor di Malang yang difungsikan sebagai tempat produksi, PT DGM juga memiliki kantor di Jakarta dan Surabaya. “Kantor di Jakarta sebagai tempat marketing adapun kantor di Surabaya sebagai tempat riset. Target kita tahun ini harus bisa menembus pasar internasional,” papar Rofiq.

Dalam hal ini yang dibidik adalah Singapura. Rofiq mengaku ingin membuka kantor di negeri tetangga itu sebagai bukti karya anak negeri ini tidak kalah dengan produk luar negeri. “Semangat kami termotivasi dari para pendiri Candi Borobudur. Dulu dengan keterbatasan teknologi, para seniman mampu memahat batu menjadi bangunan candi. Relief cerita Ramayana yang terukir di dinding candi Borobudur merupakan contoh sebuah hasil produk animasi. Semangat itulah yang menjadikan kita tetap bersemangat untuk terus berkarya,” papar pria yang mengaku terinspirasi membuat animasi dari kakeknya yang suka mendongeng dan menggambar. 
Source :http://wirausahamandiri.co.id/sukses-5-Achmad%20Rofiq%20:%20Menuai%20Untung%20dan%20Prestasi%20dari%20Film%20Animasi.html

Pelaku Ekonomi Kreatif Curhat ke Menteri Elka

3 Mei 2012  

KEDATANGAN Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Malang dijadikan ajang curhat bagi sejumlah komunitas di berbagai usaha kreatif. Hal ini terungkap ketika Mari menggelar diskusi dengan para komunitas ekonomi kreatif di Hotel Tugu, kemarin.

Hadir dalam pertemuan itu, perwakilan komunitas fashion, komunitas film, komunitas animasi, komunitas fotografi dan komunitas cosplay. Ahmad Rofiq, direktur PT Digital Global Maxinema, salah satu perusahaan di bidang film animasi mengatakan, minat masyarakat utamanya pelajar di dunia animasi sangat tinggi. Hanya saja, mereka tidak mempunyai tempat untuk mengapresiasikan hasil karyanya. “Kami sudah sering kali mem bi carakan masalah ini ke pemkot. Namun belum ada tanggapan sama sekali sampai sekarang. Makanya momen ketemu Bu Menteri (Mari Elka Pangestu) kami sampaikan semuanya,” ujar Rofiq, kemarin.
Padahal dari sisi hasil karya yang sudah dihasilkan dengan melibatkan 20 pelajar SMKN, sudah pernah mendapatkan penghargaan dari Festival Film Indonesia (FFI). Yakni kategori film animasi terbaik tahun 2008 lalu. Selain itu, regulasi pemkot mengenai tayangan lokal kurang berpihak pada industri lokal. Akibatnya, warga Malang sendiri kurang mendapatkan pengetahuan seputar perfilman lokal.
Mari Elka Pangestu berbicara di dalam forum pelaku ekonomi kreatif yang berlangsung di Hotel Tugu
Mari Elka Pangestu berbicara di dalam forum pelaku ekonomi kreatif yang berlangsung di Hotel TuguEny Erawatim, pengelola Warkop Malang, salah satu komunitas fotografi mengatakan, selama ini komunitasnya juga kurang mendapat perhatian dari masyarakat ataupun pemerintah. Padahal, sebenarnya kata Enny, karya foto yang dihasilkan teman-temannya bisa diakui di luar negeri. “Saya sendiri heran, di luar negeri hasil foto kami sangat diakui bahkan dikagumi. Namun, ketika dibawa di Malang, malah kurang mendapat perhatian,” ucap dia.
Sementara itu, Mari Elka Pangestu benjanji kepada para industri kreatif untuk selalu mendukung kreativitas dari para pelaku ekonomi kreatif. Dari kementerian sudah menyediakan sejenis website khusus untuk memperkenalkan produk ekonomi kreatif, terutama di bidang perfilman dan musik.
“Lewat website yang kami sediakan bisa dimanfaatkan para pengusaha untuk mempromosikan hasil karyanya,” kata Mari. Selain itu, juga disediakan link untuk konsultasi dan tips-tips untuk me ngem bangkan ekonomi kreatif. Tak hanya itu, dia juga berjanji kepada para pelaku ekomomi untuk memberikan dana jika memang dibutuhkan.

Syaratnya, mereka bisa mengajukan proposal yang sesuai dengan visi dan misi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. “Kami juga akan membentuk suatu zona kreatif di Malang ini. Karena wilayah Malang ini sangat banyak sekali ditemukan masyarakat yang kreatif,” tandas dia. (gus/ziz/radrmalang)
Keywords: , , , , , , ,

Menjadi Animator, Menadah Rezeki Berlimpah


Rofiq, saat pameran di PPEI (Pameran Produk Ekspor Indonesia) 2005-Kemayoran Jakarta
Terpicu tayangan Ipin dan Upin, profesi animator menadah rezeki berlimpah. Tak cuma datang dari televisi lokal yang mulai mau menayangkan film animasi lokal, tapi juga dari perusahaan film serta proyek outsourcing  dari luar negeri.

Seekor kunang-kunang terbang mendekati anak kecil bersarung. Kabayan, nama anak tersebut, berkata kepada kunang-kunang. “Waduh, aku capek sekali Lip Lap, bagaimana ini?” ujar Kabayan. Melihat cucuran keringat Kabayan, Lip Lap pun memberi semangat sambil terbang memutari kepala Kabayan.

Bagi para penggemar film animasi, adegan tersebut pasti tak asing. Betul, itu adalah salah satu cuplikan episode "Kabayan dan Lip Lap" yang sempat diputar di beberapa stasiun teve lokal, Indosiar dan Global TV.

Sayang, pamor film animasi yang 100% bikinan para animator lokal ini kurang moncer. Kalah jauh dengan pamor film animasi karya negeri jiran, Malaysia, yakni si kembar Ipin dan Upin.

Meski belum banyak film animasi lokal yang beken, toh, banyak animator lokal yang bilang bahwa bisnis animasi di Indonesia mulai menunjukkan gairah perkembangannya. “Serial teve animasi lokal sedang booming, terdorong Ipin dan Upin,” ujar Ahmad Rofiq, seorang pembuat animasi sekaligus pemilik K-Deep Animation.

Menggarap film, klip video, sampai iklan

Dibilang booming, sih, belum, namun pamor profesi pembuat animasi alias animator ikut terangkat. Banyak anim`tor baru lantas bermunculan. Salah satunya Ahmad Rofiq. Pria asal Malang ini mengaku baru menggeluti profesi sebagai animator sejak 2008 silam. Meski belum lama berkecimpung di bisnis ini, Rofiq, sapaan akrabnya, kini mengantongi Rp 40 juta saban bulan dari pemutaran serial televisi animasi Catatan Dian di stasiun televisi Spacetoon.

Itu belum seberapa, Rofiq menghitung, jika Catatan Dian jadi mengudara di Global TV beberapa bulan mendatang, penghasilannya bakal lebih berlipat. Rofiq menyebut, duit yang masuk ke kantongnya diperoleh dari hasil iklan dan sponsorship serial animasi Catatan Dian.

Ada juga Daniel Arief Budiman. Lewat bendera usaha Geppetto Animation Studio, Daniel meraup rezeki dari animasi di televisi. Salah satu karya Geppetto adalah videoklip band Samsons bertajuk Hey Gadis. Harga klip berdurasi lima menit itu dia banderol Rp 100 juta.

Selain klip video, Geppetto juga memproduksi animasi untuk berbagai film Indonesia yang di dalamnya mengandung animasi. Misalnya saja film bertitel Madame X yang disutradarai oleh Nia Dinata. Layar televisi juga dimanfaatkan Geppetto untuk membesut iklan komersial, semisal Semen Gresik, Sari Ayu, Sharp Plasmacluster, dan sebagainya yang juga mengandung animasi. “Jadi, profesi animator sangat menjanjikan karena bisa menghasilkan beragam output produk," tandas Daniel.

Pandangan serupa juga meluncur dari Ardian Elkana, pemilik Castle Production. Castle adalah perusahaan animasi lokal yang bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan (Kemdag) memproduksi serial animasi Kabayan dan Lip Lap. Meski enggan menyebut keuntungan yang dia peroleh secara mendetail, Ardian yakin bahwa animasi merupakan bisnis kreatif yang mampu menghasilkan nafkah gendut.

Mengutip data dari situs http://www.salary.com, penghasilan rata-rata animator di New York, Amerika Serikat, mencapai US$ 55.270 per tahun atau setara dengan Rp 495 juta. Ardian yang pernah bekerja di Amerika Serikat selama tujuh tahun bilang, animator yang baru lulus saja bisa bergaji
US$ 20 per jam.

Asyiknya lagi, animasi juga merupakan industri yang borderless alias tanpa batas. Alhasil, animator bisa menggarap pasar lokal dan pasar mancanegara sekaligus. Ini penting dilakoni untuk jika ingin mendapat pemasukan nan mumpuni.

Tengok saja, saat ini sebagian besar pemasukan Castle (70%) berasal dari proyek-proydk di luar negeri. Sederet proyek luar negeri yang pernah digarap Castle, antara lain Dino Tale, Kingkong, Carlos Caterpillar, dan masih banyak lagi. “Inilah enaknya animator, bisa ikut menggarap proyek animasi luar negeri,” ujarnya.

Tarif Animasi

Pesatnya industri animasi di Negeri Uwak Sam kerap membutuhkan bala bantuan tenaga animator di luar Amerika. Apalagi, upah animator Asia, termasuk Indonesia, jauh lebih murah ketimbang sejawatnya di AS.

Jelasnya begini. Ardian bilang harga proyek animasi dengan standar teknologi tercanggih di kawasan Asia semisal Taiwan dan Korea dibagi ke dalam beberapa tingkat. Kelas A, misalnya, dipatok tarif US$ 150.000-US$ 300.000. Kelas B US$ 50.000–US$ 75.000 dan kelas C mulai dari US$ 25.000. “Tarif animasi lokal bisa sepersepuluh tarif luar negeri,” ungkap dia.

Oh, iya, tarif tersebut dipatok untuk satu episode serial televisi dengan durasi tayang sekitar 15 hingga 30 menit. Catatan saja, tiap episode membutuhkan kerjasama 25 animator, tergantung tahapan pengerjaan. Pada tahap awal, tenaga animator yang dibutuhkan semakin banyak lantaran harus membangun modelling atau karakter.

Nah, agar order pembuatan animasi dari luar negeri lancar, Ardian menyarankan agar animator rajin memajang karyanya di internet sebagai portofolio. Ardian sendiri mengakt kemajuan dunia maya sangat membantunya mengembangkan pasar hingga ke luar negeri.

Namun, bila ikut menggarap proyek luar negeri yang biasa disebut proyek outsource, animator harus rela namanya tidak tercantum di credit title.

Maklum, proyek outsource sering disebut sebagai tukang jahit lantaran hanya membikin sesuai dengan pesanan saja pada bagian tertentu dalam film. “Tapi risiko yang ditanggung animator lebih minim di proyek pesanan dibandingkan dengan proyek full. Duitnya juga besar,” ujar Ardian.

Lihat saja biaya produksi film Amerika berjudul Avatar. Kantor berita Bloomberg mencatat, film animasi itu disebut-sebut menghabiskan biaya produksi mencapai US$ 200 juta lantaran ongkos pembuatan animasinya yang membengkak.

Para animator juga bisa mendiversifikasi produk ke ranah lain, misalnya games. Animator bisa beroleh untung dari penjualan karakter. Rofiq mengaku mematok royalti 20% dari penjualan aksesori berupa boneka, tas dan merchandise lain dari karakter Dian, tokoh utama serial animasinya, Catatan Dian. “Serial televisi bisa berhenti tapi bila tokoh masih dikenal masyarakat, bisnis merchandise animasi akan berlangsung lama seperti tokoh Tom and Jerry,” imbuh Rofiq. (kontan-2010)

Tuesday, March 27, 2012


Bangkitnya Animasi Indonesia

 
Songgo Rubuh dan Kuku Rock You, animasi Indonesia
 
Songgo Rubuh dan Kuku Rock You, animasi Indonesia
 
 
Astu Prasidya, Head of Visual & Concept Development PT Digital Global Maxinema, menjelaskan alasan mengapa memilih untuk bergerak di dunia animasi. “Kenapa dunia animasi? Karena di Indonesia belum ada industri dunia animasi,” jelas Astu saat ditemui Oktomagazine di Balai Kartini pada Hellofest 8 beberapa waktu lalu. “Karena itu, saya bersama tim sepakat untuk  membuat film-film animasi yang berkualitas, untuk membangun industri animasi di Indonesia,”tambahnya. Astu juga mengatakan beberapa kelebihan yang diproduksi, bila dibandingkan dengan karya-karya animasi produksi luar negeri. Ia menjelaskan bahwa karya animasinya tersebut lebih menjelaskan dan menggambarkan tentang kebudayaan Indonesia. “Contohnya adalah animasi yang berjudul Songgo-Rubuh. Animasi tersebut menjelaskan tentang budaya Jawa yang merepresentasikan budaya Indonesia,” jelasnya lebih lanjut.

“Songgo-Rubuh itu sendiri bercerita tentang dua orang penjaga gerbang Kerajaan di Jawa,” Astu coba mengungkapkan isi cerita dari salah satu animasinya. “Mereka berdua adalah dua tokoh yang punya perbedaan karakter yang sangat mencolok.”
“Songgo, tokoh pertama, itu seorang yang polos dan baik kepada semua orang. Sedangkan Rubuh, mempunyai karakter yang bisa dibilang buruk. Dia adalah tokoh yang suka marah-marah, sering merasa iri. Pokoknya mereka berdua sangat berbeda 180 derajat. Tapi saling berteman,” jelasnya.
Dalam karya animasinya tersebut, Astu mengatakan bahwa konsep cerita Songgo-Rubuh mirip dengan lakon Ketoprak. “Saya dan teman-teman punya konsep bahwa animasi ini berlatarbelakang seperti panggung ketoprak. Mereka berdua, Songgo dan Rubuh, harus memainkan sebuah peran dalam lakon tersebut,” jelas Astu. “Lakon tersebut mereka mainkan dengan latar belakang mirip ketoprak, dengan papan-papan triplek yang membentuk gerbang yang mereka harus jaga.”
Serial animasi yang akan segera dapat ditonton oleh pecinta animasi Indonesia di sebuah stasiun televisi nasional pada pertengahan 2012 mendatang. Songgo-Rubuh juga berhasil mendapatkan penghargaan sebagai The Best Animation di Hellofest 8. Dalam produksi Songgo-rubuh dan Kuku Rock You, Astu bersama Wiryadi Dharmawan berperan menjadi Sutradara.

Di kesempatan tersebut, Astu yang ditemui di Balai Kartini juga menjelaskan salah satu karyanya yang berjudul “Kuku Rock You”. Astu mengatakan bahwa ada perbedaan di antara kedua serial animasi tersebut. “Kalau Songgo-Rubuh bercerita dan membawa tentang budaya Indonesia, Kuku Rock You membawa kisah tentang kehidupan sekelompok ayam yang hidup di sebuah kampung di pinggiran kota besar.”
Kuku Rock You secara garis besar menceritakan tentang kehidupan para ayam yang dipelihara oleh seseorang di dalam sebuah kandang. Yang membuat kisah ini menjadi unik adalah kehidupan ayam-ayam tersebut yang dipersonifikasi. “Mereka memang tinggal di dalam kandang. Tapi kandang tersebut berbentuk seperti apartemen dan punya kehidupan seperti manusia biasa,” jelas Astu.
Astu lebih lanjut mengatakan bahwa ia percaya bahwa cerita animasi yang ia buat akan mendapatkan sambutan di masyarakat. Ia beralasan bahwa animasi karyanya tersebut, beserta dengan tokoh dan jalan ceritanya, memang belum pernah ada di Indonesia. “Lebih jauh lagi, kami memang benar-benar memikirkan animasi secara detail dan gaya visual,” lanjut Astu.

Kehadiran dua animasi berjudul, Songgo-Rubuh dan Kuku Rock You, memang diharapkan akan membangkitkan dunia animasi di Indonesia sekaligus semakin mewarnai dunia hiburan di tanah air.
PT Digital Global Maxinema yang berlokasi di Malang telah membuktikan prestasinya. Tidak harus ada di pusat Negara untuk memproduksi karya yang bagus dan diterima industri nasional bahkan internasional. “Kami memang berada di Malang tetapi kami berusaha untuk membuka jaringan seluas-luasnya. Semoga apa yang kami lakukan bisa menginspirasi para animator lainnya yang sedang berjuang di kota-kota lainnya,” pesan Astu.
Kita tunggu kehadiran Songgo-Rubuh dan Kuku Rock You sebagai tontonan animasi yang berkualitas asli Indonesia!

http://www.oktomagazine.com/oktotainment/film/1366/bangkitnya.animasi.indonesia#.T0Ny5-PXUng.facebook
(andreas@oktomagazine.com)
JAKARTA, KOMPAS.com --

Apa yang dikeluhkan oleh animator di Indonesia? Kekurangan cerita menarik untuk menghidupkan animasi.
Keluhan tersebut sering terdengar dalam forum maupun workshop animasi. Tidak jarang karakter menarik yang dilahirkan oleh animator menjadi tak berarti dan tidak melakukan apa-apa karena belum dihidupkan dengan cerita yang menarik. Ibarat anak wayang, karakter tersebut tergeletak dalam kotak dan tak mampu beraksi.



Seperti diketahui, begitu banyak animator hebat dalam negeri yang telah memproduksi trailer menarik dengan tokoh yang secara visual tidak bisa disebut sebagai karya biasa. Tapi, sangat disayangkan, tokoh itu menjadi kurang memiliki greget karena tak didukung cerita yang menggelitik.
Coba saja Anda tengok situs video internet YouTube atau Vimeo, begitu banyak animasi anak bangsa yang membanggakan dan tidak kalah dari animasi luar negeri. Namun, karya itu hanya menjadi tontonan gratis tanpa mampu bersaing dalam industri animasi. Dengan kata lain, produk animasi tersebut tak bisa dijual hanya gara-gara tidak memiliki cerita atau story yang menggigit. Jika pun ada, cerita yang muncul kurang nendang, tidak memiliki plot yang apik dan nilai dramatik yang kuat. Bahkan, kebanyakan masih berorientasi ke idealisme animator.

Menurut penggiat animasi dan juga pendiri Digital Global Maxinema, Achmad Rofiq, hingga hari ini masih belum ada cerita animasi Indonesia yang menarik untuk dijadikan referensi. Belajar dari serial Upin Ipin--produk animasi Malaysia yang mampu merebut hati anak-anak Indonesia--misalnya, "Kita bisa melihat kekuatan karater yang unik, plot yang kuat, dan kemampuan pencerita mengangkat tema-tema yang sederhana," kata Rofiq.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahan itu? Masih menurut Rofiq, "Jawabannya tentu saja mencari penulis cerita atau story teller yang mampu bersinergi dengan animator. Sebab, animator kita kadang asyik bermain dengan dirinya sendiri tanpa mau belajar untuk membuat cerita menarik yang mampu merebut hati dunia industri. Padahal, dengan kelemahan bakat animator membuat cerita, sang animator sebenarnya dapat bergandengan tangan dengan penulis cerita. Dengan begitu, tidak ada lagi tokoh atau karakter yang dilahirkan oleh animator hanya beraksi untuk sekuel pendek karena tidak ada 'penggerak' yang mampu menceritakan perjalanan sang tokoh."

Memang, akan banyak tantangan baru ketika animator bekerja bareng dengan penulis cerita yang merupakan penulis naskah untuk live action. Tapi, dengan belajar bersama, penulis cerita akan memahami prinsip-prinsip animasi yang diperlukannya. Sebaliknya, animator juga akan mengetahui prinsip-prinsip penulisan cerita, dari bagaimana membuat tema, mengatur plot, menguatkan dramatik, sampai memberi unsur-unsur komedi yang muaranya akan memberi daya hidup pada karakter yang dicipta. "Pengalaman kami di studio Digital Global Maxinema (DGM), misalnya, telah mampu melahirkan beberapa produk animasi dengan cerita serial yang sebelumnya tak mampu kami penuhi. Itu semua berkat DGM--yang sebagian awaknya adalah animator--bersinergi dengan pencerita atau penulis naskah yang kami anggap mampu menghidupkan karakter yang sama-sama kami ciptakan," jelas Rofiq.

Rofiq melanjutkan bahwa penulis naskah di Indonesia hampir bisa dikatakan tak ada yang mengkhususkan diri pada penulisan animasi. Tapi, dengan bergandengan tangan dengan, paling tidak animator dan penulis cerita bisa lebih memiliki pilihan dalam membangun dunia khayal secara bersama-sama atas dasar cerita yang mereka bangun bersama. "Tentu saja, sekali lagi saya katakan, penulis live action membutuhkan pembelajaran dari animator untuk tahu paling tidak prinsip-prinsip dasar animasi agar penulis yang bersangkutan lebih paham dan berdaya dalam mengembangkan imajinasinya. Supaya penulis naskah atau pencerita juga tidak asal membuat cerita yang jauh dari nilai dan prinsip-prinsip animasi," papar Rofiq.
Hasilnya, dari beberapa festival animasi, karya kerja bareng antara penulis cerita dengan animator mampu merebut prestasi dan layak untuk menjadi produk komersial. Seperti Songgo Rubuh, yang meraih sebagai The Best Animation di HelloFest 8 di Jakarta beberapa waktu lalu dan diminati oleh produser televisi luar negeri. Bahkan, serial lainnya, Kukurock You, sekarang juga telah memasuki beberapa episode dan memberi kesempatan bagi banyak animator, terutama lulusan SMK animasi.
Sumber : Hellomotion

.http://entertainment.kompas.com/read/2012/03/11/09221876/Agar.Animasi.Hidup.Animator.dan.Penulis.Cerita.Harus.Bekerja.Bareng

Character Designs for Kid-friendly Cartoons

 
 
Cartoons always depend on their characters for success. For all the talk about the latest in 3D animation, the saturation of vivid colors, and the rendering of frames, most children will still notice the heroic character over the detailed background. Children will still idolize the funny character over the most realistic of environments. This is why for animators interested in creating their own intellectual properties, they should invest in the characteristics of the lead roles.
Here are some effective character guides which you can use for your characters to appeal to the kids – particularly the demographic of the toddler years. These characteristics can be used to help children identify with your characters:
1. Cute and cuddly. This one never gets old. Of course, children will always prefer huggable characters which they can turn into their pillows and playthings compared to hideous and scary lead characters. The point in creating a lovable cartoon charcter is to let them relate with the children – and we all know how cute and cuddly kids are.
Moreover, to get a maximum impact for the cuddly designs of your lead cartoon characters in mind, have them possess vibrant colors in their clothes. Cartoons, after all, are always about keeping the attention span of children and what better way to do that than attractive colors. Examples of enduring cartoon characters which perfected the cute-and-cuddly template are Winnie the Pooh and the Teletubbies.
Here is an example of a cute and cuddly cartoon animation series for pre-schoolers, Katakune. Created by our team here in the 3D animation studio, Mediafreaks:
2. Perky. This does not have to resort to the realm of slapstick. Characters which are perky and which possess a high energy level are more than likely to get the attention of kids. Dora the Explorer perfected this peg. Characters who are always happy will not only attract children, they can also teach them valuable lessons such as being optimistic.
3. Courageous. Adventure narratives are always a hit with children and a good way to teach them the virtues of self-reliance and perseverance is to come up with characters who glow with courage in such obstacle-ridden situations. Characters who do not fold in times of adversity will help show children that they should do the same. Of course, for toddlers any message is not easily conveyed – but at least it exposes them to the right values.
Our 3D animation studio team here at Mediafreaks tried this character peg with our lovable team of pooches led by the courageous Sedo Dog:
http://blog.media-freaks.com/character-designs-for-kid-friendly-cartoons/http://blog.media-freaks.com/character-designs-for-kid-friendly-cartoons/
4. Friendly. Lead characters who are friendly exhibit plenty of positive social skills which toddlers will eventually need as they first step into pre-school. Simple tasks such as greeting a friend, helping them out during difficult times and having fun with a group of friends will help imbibe to kids the value of interaction. This will help them avoid the pitfalls of being a loner or of being too selfish. This also helps nip the causes of bullying in the bud.
These are just guides to a lovable character. If the characters you create become successful to children worldwide, it can open doors of opportunities for character licensing deals for your intellectual properties. This is how you can assure the longevity of your cartoon animated series.
It surely helps to put one’s self in the shoes of children. After all, children does not know how it feels like to be an adult – but adults have no excuse forgetting the feeling of childhood (except maybe if they are like Benjamin Button).
But in any case, knowing that cartoons can greatly contribute to the growth of a child should be a motivation for animators to give their best to their craft.

Brand Licensing Discusses Character Licensing

The Brand licensing and Merchandising Show ’09, Mumbai, had Spacetoon’s Rajiv Sanghari, Graphiti’s Munjal Shroff and Extend Brands Mayuri Pitale discussing animation and character licensing. The session was moderated by LIMA’s Martin Borchstein.
Character licensing galore:
Talking about the licensing industry, Rajiv Sanghari said that entertainment/character licensing is the strongest vertical in the licensing business. “This vertical continues to be the strongest in the licensing business maintaining a 45% share in the market followed by trademarks/brands at 17% and fashion category at 15%.
Fido-the licensing biz hero:
Munjal Shroff, whose company Graphiti Multimedia has tied-up with Joanna Ferrone (creator of Fido Dido, popular as 7UP’s brand mascot) and is creating content around it, said that that the peppy and cool character was still popular with brands and consumers, attracting a lot of licensees.
Sharing a brief background about Fido and how it was created he said, “Fido is known as a huge trademark success throughout the US, Europe and Asia and is present in several categories such as apparel, shoes, stationary, accessories, soft drinks, etc.”
Fido was a case of enormous success for PepsiCo in the 80′s and still being used on the 7UP’s cans and advertisements in Argentina, Chile, Greece, UK, Ireland and India, amongst many other countries.
Key to successful licensing strategy:
Extend Brands’ Mayuri Pitale, whose company represents Popeye and many other characters, highlighted the key to a successful licensing strategy. She highlighted the need to identify the USP of the property and evolve with the target group, to continue building the property over the years and to strategize according to the product life cycle of a certain brand.