Monday, May 7, 2012

List Pemenang HelloFest 8

Februari 2012

Sebelumnya HelloFest 8 mengucapkan terima kasih kepada 20 ribu pengunjung, 1105 kostumasa, 304 kreator film, 200 booth pasar hellofest, puluhan sponsor, & 150 panitia kalian memang gokil abis!!

Dan berikut adalah list pemenang HelloFest 8 Anima Expo:
Pemenang Film Pendek
Kategori Best Movie 
Judul Karya : Altitude Alto
Kreator : Aditya Prabaswara
Kategori Best Animation
Judul Karya : Songgo Rubuh
Kreator : Digital Global Maxinema
Kategori Best Non Animation
Judul Karya : Vetus
Kreator : Muhammad Sauki Basya 
Kategori Favorite Movie
Judul Karya : KidsCreaSong
Kreator : Dita Novianti 
Penghargaan Khusus dari Fred Deakin
Judul Karya : Time Rotation
Kreator : Elka Pratika
Pemenang KostuMasa
"Nyuri Perhatian" Award
Odoy - Metal Garurumon (Digimon)
Best “Indonesia Banget” Costume
Carissa Lesley - Barong Bali versi Perempuan
Best Imaginary Costume
Ardhya Budiman - Invader Biru
Best Kid Costume
Bianca - Rachel Alucard
Best Costume
Yukitora - Maeda Keiji (Female Version)
Best Individual Performance
Muhammad Noor Iqball - Gatot Kaca
Best Horror Costume
Adly Soewandi - Anabola Cyst
Best Team Costume
Lunar Asterisk
Best Team “Indonesia Banget” Costume
Eternal Creativity
Best Team Performance
8VOLUTION
Pemenang Desain Mandiri 
1. Eksotika Mainan Tradisional Indonesia - Rahmat Tri Basuki
2. Membatik Negeri Eksotika Kemandirian - Perry Napitupulu
3. Pesona Indonesia Mandiri - Irene Tanurajaya
4. Indonesia Eksotik Banget - Totok Ardyanto
5. Tarian Warna - Ketut Adhi Apriana
5. Eksotika Indonesia Kelas Dunia - Baharudin Jailani (Like FB : 520)
source : http://hellofest.com/pemenang

BERTEMUNYA ANIMATOR DAN PENULIS SITKOM


Jakarta, 04 Mei 2012 

Joni Faisal-penulis Songgo Rubuh
     Sekitar pertengahan bulan November tahun 2011 kami diminta oleh pihak MNC TV untuk membuat serial animasi yang berlatar belakang budaya Indonesia. Istilah mereka, animasi yang memiliki warna lokal. Kebetulan waktu itu kami sudah punya ide meskipun masih bersifat obrolan tentang sersadu penjaga istana yang belakangan kami beri judul Songgo Rubuh. Sebenarnya ini bukan yang pertama kami mengajukan ide program animasi ke MNC TV. Beberapa bulan sebelumnya kami membawa serial Kukurockyou, animasi bertema keluarga unggas yang jago bernyanyi. Namun karena salah informasi dan kami berpendapat tidak mendapat tanggapan dari MNC TV, serial itu akhirnya kami tawarkan ke RCTI. Gayung pun bersambut, RCTI kemudian menyerahkan Kukurockyou kepada pihak MNC Animasi, semacam rumah produksi baru yang mengurusi animasi di jaringan MNC Grup. Namun, Songgo Rubuh yang yang kami tawarkan belakangan ternyata lebih mujur. Songgo Rubuh menyalip Kukurockyou mendapat kesempatan tayang di MNC TV.     
Jika menoleh ke belakang, baik perjalanan Kukurockyou maupun Songgo Rubuh, tidaklah semudah apa yang mungkin pembaca bayangkan. Sungguh hal yang kami anggap luar biasa jika kedua serial itu saat ini digadang-gadang menjadi animasi yang bakal merebut hati pemirsa Indonesia. Betapa tidak, kesan para aktivis animasi yang selama ini menganggap daya beli televisi kita terhadap animasi lokal sangat rendah, perlahan-lahan kami singkirkan. Kemudian, anggapan bahwa daya beli televisi Indonesia terhadap animasi kita  terlalu murah juga sekaligus kami patahkan. Buktinya, harga yang kami patok pada pihak televisi, melebihi harga sinetron live action, meskipun perbedaannya tidak cukup jauh. Tapi paling tidak, ini memberikan nafas lega bagi kami untuk berkarya lebih produktif, karena daya beli televisi kita terhadap animasi lokal juga tidak semurah yang kami perkirakan sebelumnya. Masalahnya barangkali banyak karya animasi kawan-kawan yang ditawarkan ke pihak televisi masih belum memenuhi standar mereka. Sehingga banyak yang menganggap pihak televisi terlalu arogan bagi karya mereka. Dengan argumen bahwa biaya produksi animasi itu jauh lebih mahal dari pada live action, ditambah dengan kualitas animasi yang memenuhi standar tayang pihak televisi, alasan kita untuk minta harga yang lebih tinggi tentu saja masuk akal.    
Jika kami ditanya apakah sistem yang telah kami lakukan terhadap proses produksi animasi itu sebuah proses normal sebagai sebuah industri? Tentu saja kami ingin mengatakan semua itu adalah hasil trial and error. Kasarnya, kami belajar dari nol untuk memahami kepentingan banyak pihak terhadap industri ini. Hal sepele tentang durasi sketsa Songgo Rubuh yang tayang di MNC TV saja misalnya, tadinya kami buat rata-rata tidak lebih dari dua menit. Namun setelah beberapa kali pertemuan dengan pihak MNC TV, rupanya mereka minta setiap sketsa rata-rata berdurasi empat menit. Dan itu bukan perkara mudah buat kami untuk merubahnya karena konsep awalnya adalah berdurasi 1.30 menit. Tapi kompromi-kompromi semacam ini tetap kami jalani sebatas hal itu tidak menganggu prinsip dan konsep dasar dari apa yang selama ini kami yakini.   
  
Belajar Menyesuaikan Diri
Untuk diketahui, kami bertiga (Denny Asse, Murhananto dan saya sendiri Joni Faisal) berlatar belakang sebagai penulis komedi. Jika dispesialkan lagi, komedi yang kami urusi itu tidak lain adalah komedi situasi atau sitkom dan sketsa. Sejak 2004 kami sudah kenyang dengan apa itu sitkom. Kami telah menulis ratusan episode sitkom diantaranya Bajaj Bajuri, Suami-suami Takut Istri, Tante Tuti, Cagur Naik Bajaj Kejar Kusnadi, sketsa Tawa Sutra dan lain-lain. Artinya sebagai penulis komedi kami sudah paham benar apa itu sitcom, sketsa dan drama komedi dengan segala “tetek bengek”nya. Namun saat kami bertemu Ahmad Rofiq--yang telah malang melintang di jagat animasi lebih dari delapan tahun—untuk mengajak kami menulis script animasi, kami akui kami gelagapan. Penyebabnya, tak lain karena kami gagap dengan dunia animasi. Boro-boro untuk menjadi penulis naskahnya, apa itu prinsip-prinsip animasi saja kami tidak terlalu paham. Apalagi teknik dan cara kerja kawan-kawan animator dalam industri ini, bisa dikatakan kami belum paham. 
            Dalam komedi live action kami ditempa oleh pengalaman untuk memahami “manajemen” produksi. Di Bajaj Bajuri misalnya, penonton tidak akan menemui scene yang berlokasi di mal yang hanya diambil hanya satu scene. Mengapa? Selain karena ongkos syutingnya mahal, ribet dan banyak masalah, pertanyaan berikutnya: buat apa syuting di mal kalau hanya untuk mencari kelucuan yang hanya terjadi beberapa detik? Mengapa tidak membuat adegan yang lain saja jika kualitas dan target kelucuan yang sama bisa dihasilkan? Dengan jam terbang dan teori yang pernah kami pelajari, adegan di mal ini bisa saja diganti dengan di ruang tamu di mana Bajuri telah membawa paper bag yang menandakan kalau dia baru saja datang dari mal. Bukankah itu lebih efektif dan murah? Banyak hal yang bermasalah semacam ini bisa kami taklukan di komedi live action. Bahkan dari pengalaman pula kami bisa membuat produksi itu menjadi sedikit low budget. Tapi di animasi tidak begitu. Kami bukan saja meraba-raba, tapi kami benar-benar buta.     
            Untuk menambah seorang figuran atau ekstras dalam komedi live action misalnya, tidak dibutuhkan banyak waktu. Cukup cari orang di jalan atau yang telah disiapkan oleh Unit, bisa langsung take. Tapi di animasi, kami tidak tahu kalau menambah satu saja karakter orang atau binatang itu membutuhkan waktu untuk membuat model. Belum lagi, rigging, compositing dan lain-lain. Semua itu butuh waktu dan kami tidak mungkin untuk tidak belajar dengan tim produksi/animator. Tanpa kami mengerti, pasti akan banyak sekali kebingungan maupun waktu yang akan terbuang dari kawan-kawan produksi.            
Itu baru satu saja bagian yang kami tidak pahami dari animasi. Belum lagi masuk ke content cerita. Pernah kami membuat adegan yang kami anggap seru. Tapi ternyata di animasi itu menjadi biasa. Karena apa? Karena adegan itu bisa dibuat dengan mudah di syuting live action. "ngapian adegan buat gituan kalo, kalo masih bisa disyuting biasa,” protes seorang teman yang telah berpengalaman. 

Dalam live action jurus-jurus komedi seperti teaser, roll of three, clip hunger, running gage, slapstick yang intinya untuk mendapat ledakan tawa atau punchline di  setiap scene atau segment sudah mendarah daging dan secara reflex kerap kami lakukan pada saat penulisan naskah. Di animasi sendiri, harus diakui kami belum punya pengalaman untuk membuatnya. Namun sejak Achamd Rofiq dan kawan-kawan memberikan pelajaran tentang prinsip-prinsip apa saja yang berlaku di animasi, kami jadi lumayan paham kalau banyak hal-hal yang boleh dilakukan di animasi. Intinya, animasi memberikan banyak ruang yang berlebih bagi penulis seperti kami, untuk berfikir tentang fantasi, berbicara mengenai hewan-hewan, mahkluk-makhluk unik, dan hal-hal yang bisa terbang dan sebagainya.
Dari tim Ahmad Rofiq (tim animator/produksi), yang selama ini berproduksi tanpa penulis, merasa bahwa dengan kehadiran penulis, paling tidak cerita akan menuju ke sasaran yang diinginkan. Memiliki tingkat dramati, terstruktur, dan yang lebih penting tujuan dari cerita tidak bertele-tele.

Oleh : Joni faisal (penulis serial animasi Songgo Rubuh)

Menteri Mari Elka Tantang Para Animator

TEMPO.CO , Jakarta 
Jum'at, 04 Mei 2012 | 05:46 WIB



Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu menantang para animator Malang menciptakan karakter lokal layaknya tokoh kartun Mickey Mouse dari Disneyland, Amerika Serikat. Para animator itu ditantang membuat ide cerita berbasis budaya asli Indonesia.  "Seperti Kukuruyuk Rock, animasi yang akan tampil di televisi swasta," kata Marie Elka di Malang, Jawa Timur, Kamis 3 Mei 2012.

Kementerian Pariwisata siap menampung kreatifitas para animator Malang. Bahkan mereka bisa bisa memanfaatkan laman Kementerian guna pamer hasil karyanya. "Kami juga siap membantu dana jika dibutuhkan," kata dia.

Menurut dia, animasi berkarakter lokal bisa menjadi simbol obyek wisata di Malang. Kekuatan cerita daerah juga bisa dikembangkan seperti produk permainan, aksesoris, dan komik.

Karya animasi siswa Sekolah Menengah Kejuruan Malang meraih penghargan terbaik Festifal Film Indonesia 2008 kategori film animasi. Pemerintah Kota Malang tak merespon prestasi itu. Apalagi tak ada televisi lokal tertarik menayangkan film animasi karyanya.


Para animator dalam komunitas pelaku industri kreatif mengeluhkan minimnya fasilitas dari pemerintah. Mereka tak punya wadah mengekspresikan hasil karyanya. "Padahal, sebagian memenangkan kompetisi internasional," kata direktur PT Digital Global Maxinema, Ahmad Rofiq.

Komunitas fotografi di Malang pun mengakui minimnya perhatian Pemerintah Kota Malang.

EKO WIDIANTO
Jakarta, MediaProfesi.com - 
Senin, 24 Januari 201

Dalam tiga hari Expo Wirausaha Mandiri 2011, yang digelar 20-22 Januari yang telah lewat, saya memang tak memiliki cukup waktu untuk bergaul dengan satu per satu dari para peserta, baik finalis tahun ini, maupun peserta dari pemenang dan finalis tahun-tahun sebelumnya serta mitra binaan Bank Mandiri. Namun ketika dari industri kreatif muncul pemenang atas nama Ahmad Rofiq, saya rasa ada sesuatu yang beda.
Ya, berbeda karena berarti Bank Mandiri cukup punya perhatian terhadap industri kreatif terutama bidang garapan Ahmad Rofiq, yaitu film animasi. Dan ini adalah sebuah harapan besar akan bertumbuhnya semangat para animator tanah air untuk berkarya tak hanya menjadi ’tukang jahit’ yang dipekerjakan oleh kreator-kreator asing.
Perihal semangat para kreator atau animator dalam negeri, tentu banyak factor yang menghambat tumbuh kembangnya industri ini dalam menuju menjadi tuan rumah di negeri sendiri atau bahkan ekspor. Karena sejauh ini, meski film animasi Dragon Ball dan lain-lainnya mendunia, toh kreator karakter adalah bukan anak bangsa ini, mereka hanya menjadi ‘tukang jahit’ tadi.
Kenapa?
Kalau mau introspects tentu harus berangkat dari pekerja animasi sendiri, apakah mereka cukup kreatif menggarap bisnis karakter yang begitu berlimpah dapat ditemukan di harta Karun kekayaan etnik dan budaya bangsa ini. Kalau di bidang disain, Kekayaan karakter dan kultur bangsa ini telah membuat seorang disainer kondang Stefan Sagmeister tak kering ide, maka kreator karakter animasi pun mestinya demikian.
Industri kreatif utamanya film animasi nasional, pun mengalami kendala ketika bersaing dengan karakter-karakter animasi dari luar yang begitu gencar menghantam pasar dalam negeri dengan harga jual untuk tayangan televisi sangat murah. Dengan kondisi itu, televisi pun akhirnya lebih memilih membeli produk asing yang murah tak peduli konten, daripada membeli film animasi local yang harganya relatif lebih mahal.
Bukan bermaksud menggurui, namun perihal industri kreatif animasi ini memang masih butuh perhatian lebih serius. Bahwasanya bisnis di industri ini belum populer, ya. Untuk itu diperlukan pembelajaran menyeluruh tentang industri yang berbasis kreatif ini. ApalagI dengan pangsa pasar yang sangat potensial di dalam negeri, sayang sekali jika yang menikmati adalah asing. Lantas, apa saja yang sebenarnya mesti dipahami dalam bisnis di industri animasi?
Industri animasi setali tiga uang dengan industri film pada umumnya, hanya saja kalau boleh saya katakan bahwa industri ini punya waktu tak terbatas asal mampu melakukan kontinuitas dan tak miskin ide. Kontinuitas dapat terjaga dengan penciptaan karakter khas yang bisa diterima segala zaman dalam membawakan tema-tema ceritanya. Dari Donald Duck sampai Mickey Mouse, kontinuitasnya terjaga dengan kekhasan karakter serta kekayaan ide cerita. Dan itu juga berarti bahwa karakter dalam film animasi adalah penyampai pesan yang efektif dengan tema-tema cerita semau story tellernya.
Ketika bicara karakter, maka disinilah sebenarnya bisnis yang sesungguhnya akan mendatangkan keuntungan. Walt Disney mungkin tak sampai 5 persen pendapatan dari menjual tayangan film animasinya ke seluruh dunia. Tapi royalti dari bisnis franchise produksi karakter telah membuat raksasa jagad animasi ini menguasai dunia.
Sebelum Expo Wirausaha Mandiri, di Jakarta juga sempat digelar Franchise & License Expo, yang dalam kesempatan itu ada perwakilan Marvel Comic yang dengan 5.000 karakter telah menjadi raksasa “jagad marvel” dan dibeli Walt Disney. Nah, dari 5.000 karakter tersebut, baik yang populer hanya dalam komik maupun sudah divisualkan dalam film animasi, menegaskan betapa bisnis karakter sangat potensial dan bahkan film animasinya hanya menjadi pendamping atau alat propaganda (promosi) saja.
Dalam bisnis karakter, kalau melihat yang telah dilakukan Marvel sejak 1961, mengandaikan pasar dalam negeri telah mengalami keterlambatan selama 50 tahun. Ketika Marvel sudah memiliki jagad marvel dengan 5.000 tokoh karakter kita masih dengan jumlah terbatas serta distribusi yang terbatas pula.
Bisnis karakter setidaknya telah menjadi tren dalam empat sektor yang cukup strategis yang kadangkala tak disadari. Misalnya Apparel dan merchandise yang kemudian memunculkan karakter-karakter sampai pada ruang pribadi dengan melekat pada sprei, sarung bantal, guling dan sebagainya. Dan tak ketinggalan dalam dunia permainan anak (toys) yang mana hampir semua karakter melekati mainan anak bahkan hingga stationary. Kalau kita lihat, dari kaos kaki, sepatu, alat tulis, celana, baju, topi, tas sekolah.
Dengan melihat kekuatan bisnisnya yang luar biasa, seorang investor, atau perusahaan finansial tentu akan melihatnya sebagai peluang, termasuk bagi televisi untuk tidak hanya berharap mendapat iklan dari setiap slot tayangan film animasi, namun lebih luas lagi melihat sebagai peluang bisnis merchandising, apparel, toys dan stationary.
Begitu juga dengan Bank, sebagai lembaga keuangan tentunya diharapkan dapat lebih memberikan prioritas atau setidaknya kesempatan sama bagi kalangan industri kreatif utamanya animasi dalam pengucuran modal usaha. Maka ketika melihat Bank Mandiri yang dengan pogram CSRnya menyelenggarakan kompetisi kewirausahaan dan memilih Ahmad Rofiq sebagai salah satu finalis yang kemudian memenangi juara I kategori kreatif dengan produk film animasi, saya melihat Bank Mandiri sebagai Bank yang melek industri kreatif animasi. Meskipun, baru sebatas “nemu” potensi tersebut di tengah jalan ketika pelakunya sudah kelewat jauh melangkah, bukan membina sejak awal.
Dan perlu diketahui, industri animasi Indonesia tak hanya butuh tepuk tangan ketika sudah mencapai keberhasilan namun tanpa dukungan sedari awal melangkah, dalam arti butuh bapak angkat. Sampai-sampai, malam usai penerimaan penghargaan wirausaha mandiri, saya menyempatkan bertemu Ahmad Rofiq dari studio Kdeep, bersama Peni Cameron (Cams Solution) yang begitu getol memperjuangkan agar animasi dalam negeri tetap eksis meski bergerak dari tingkat lokal.
Sebagai ’alumni’ Cams Solution, Ahmad Rofiq dengan Kdeep-nya adalah studio partner bagi cams dalam memproduksi film animasi. Beberapa karya telah menghiasi layar kaca di tv-tv lokal maupun nasiona. Rofiq pada tahun 2008 berhasil menyabet piala FFI dan setahun sebelumnya, karyanya berjudul a kite membuatnya mendapat penghargaan bergengsi di Jepang. Dan ia, berpartner dengan Cams maupun pihak lain tak hanya berkarya membuat film animasi, melainkan juga mengembangkan bisnis merchandise-nya. Untuk menguasai pasar nasional, Rofiq berharap tv nasional lebih terbuka terhadap karya lokal. Dengan hal itu, tentu kita sangat sepakat agar tak hanya Upin & Ipin diberi kesempatan mengeruk pundi-pundi di pasar dalam negeri.
Sekilas Pemenang Wirausaha Mandiri 2011
Sebanyak 13 pemenang penghargaan Wirausaha Mandiri 2011 merupakan finalis yang telah menyisihkan 3.294 mahasiswa dari 412 perguruan tinggi di 33 provinsi di Indonesia. Penghargaan Wirausaha Mandiri 2010 diserahkan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta Convention Center pada Kamis (22/1). Kategori diploma dan mahasiswa, penghargaan Wirausaha Mandiri 2010 diberikan kepada Muhammad Asmui (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta) dan Ridwan Abadi (Universitas Brawijaya, Malang) di kategori Boga.
Fauzan Hangriawan (Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta) dan Andi Arham Benyamin (Universitas Hasanuddin, Makassar) di kategori industri dan jasa,serta Dewi Tanjung Sari (IKIP Budiutomo, Surabaya) dan Alvin (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta) di kategori kreatif. Pada kategori mahasiswa, Evi Marlina (Universitas Jambi, Jambi) terpilih sebagai penerima penghargaan Wirausaha Terinovatif.
Di Kelompok pascasarjana dan alumni, penghargaan Wirausaha Mandiri diberikan kepada Rosnendya Wisnu Wardhana (Universitas Batam, Batam) dan Fajar Handika (Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta) di kategori boga.Ahmad Abdul Hadi (Unsgawati, Cirebon) dan MGS Syaiful Fadli (Universitas Sriwijaya, Palembang) di kategori industri dan jasa, serta Achmad Rofiq (ITS, Surabaya) dan Surya Adhitama (ITB ) di kategori kreatif. Surya sekaligus menerima Penghargaan Wirausaha Terinovatif pada kelompok ini. * (Mah/Syam)

Oleh : Mahar Prastowo, Writerpreneur

Tokoh Masyarakat Penggerak Kewirausahaan

Senin, 07 Februari 2011 | 00:53 WIB



 MENTERI Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan menganugerahi Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini “Tokoh Masyarakat Penggerak Kewirausahaan”, sebagai penghargaan atas kesuksesan program Wirausaha Mandiri. Penganugerahan tersebut diberikan pada saat pencanangan Gerakan Kewirausahaan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Smesco UKM Jakarta, Rabu (2/2).

Program yang telah digelar sejak 2007 itu semakin diakui telah berhasil menghadirkan insan-insan muda kreatif dan inovatif yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakan ekonomi nasional. Dalam kurun waktu tersebut, program Wirausaha Mandiri telah melahirkan lebih dari 6.500 wirausahawan muda baru serta menularkan semangat kemandirian kepada para mahasiswa melalui implementasi dua program utama yaitu pencarian bibit wirausaha muda baru dan pembinaan berwirausaha.

Selain Dirut Bank Mandiri, tiga orang usahawan muda alumnus program tersebut memperoleh penghargaan sebagai Wirausaha Muda Sukses Terbaik. Mereka adalah Achmad Rofiq, Pemenang I WM 2010 kategori Pascasarjana & Alumni bidang usaha kreatif, pemilik usaha Film Animasi, Muhammad Asmui, Pemenang I WM 2010 kategori Diploma dan Mahasiswa bidang usaha boga, pemilik usaha Javapuccino, dan Fauzan Hangriawan, Pemenang I WM 2010 kategori Diploma dan Mahasiswa, bidang usaha industri & jasa, pemilik usaha Budidaya Pembesaran dan Pembenihan Lele Sangkuriang

Wirausaha Mandiri merupakan salah satu program strategis Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Mandiri yang meliputi serangkaian kegiatan, yaitu pelaksanaan workshop, pemberian beasiswa wirausaha, penghargaan anugerah Wirausaha Mandiri, pendampingan berwirausaha serta promosi melalui pameran dan publikasi. Untuk memperkuat keberhasilan program ini pada pembentukan jiwa kewirausahaan, Bank Mandiri juga telah melakukan beberapa inovasi, antara lain melalui penyusunan modul kewirausahaan sebagai referensi pengajaran mata kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi serta pelatihan kepada para dosen untuk menjadi business coach sekaligus fasilitator untuk pengembangan bisnis para wirausahawan.

 Source : TEMPO Interaktif, Jakarta 

Menuai Untung dan Prestasi dari Film Animasi

Jumat, 03 Pebruari 2012

Royas Amri (kiri,) Rofiq (kanan) saat pameran SME Kuala Lumpur-2011
Kemampuan berimajinasi tak hanya mendatangkan prestasi bagi Achmad Rofiq. Beragam ide dan fantasi yang dituangkan dalam film animasi telah menjadi bisnis dengan keuntungan besar.

Achmad Rofiq mengawali kariernya di industri kreatif dengan melahirkan CV Kdeep Animation pada pertengahan 2005. Bersama teman kuliahnya, Rofiq yang ketika itu berstatus mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang, mulai menggarap film animasi.

Karya pertamanya berjudul Bio Zone dibuat pada 2005. Setahun kemudian, film kedua, A Kite, lahir. Film ini diikutsertakan dalam Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) dan masuk sebagai finalis. Pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008, A Kite mendapat penghargaan khusus sebagai film animasi terbaik.

“Untuk Bio Zone memang tidak untuk dipublikasikan, tetapi setelah itu hampir seluruh karya saya dapat dinikmati umum,” ucap Rofiq.  Tidak hanya di dalam negeri, film-film produksi Kdeep Animation juga berkiprah di luar negeri, antara lain di festival Europe on Screen (EOS) dan Japan Asia Graph. 

Menggeluti dunia animasi tidak lepas dari bakatnya menggambar. Ketika duduk di bangku SD dan Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), dia sering mengikuti lomba menggambar. Namun, kegiatan tersebut jarang dilakukan ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah (setingkat SMA) di Ponpes Miftahul Ulum, Kelurahan Kebon Agung, Kota Pasuruan. Barulah ketika kuliah,  hobi mencorat-coret kertas dilakukan lagi olehnya.

Kendati demikian, dia tidak langsung menekuni dunia animasi. Apalagi orang tuanya menginginkan dia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) selepas lulus kuliah. Rofiq baru tergerak membuat film animasi setelah tidak puas dengan ilmu desain pada perkuliahan. Setelah film pertama lahir, karya demi karya pun akhirnya dihasilkan.

“Karya-karya kita yang lain di antaranya Baby Dian, Catatan Dian, dan Kuku Rock,” ujarnya. Kepiawaian di bidang animasi ini pula yang membawa Rofiq mendapat penghargaan Pemenang I Wirausaha Muda Mandiri 2010 kategori Mahasiswa Program Pascasarjana dan Alumni bidang Industri Kreatif yang digelar Bank Mandiri.

Bergelut di dunia kreatif bukannya tanpa tantangan. Menurut dia, di Indonesia produksi film animasi kurang  mendapatkan dukungan pemerintah. ”Padahal kalau mau berbicara tentang industri kreatif, produksi film animasilah salah satu objeknya,” jelasnya.

Dia mengatakan, untuk membuat sebuah film animasi dibutuhkan waktu lima hingga enam bulan, bahkan sampai setahun. Proses produksinya pun juga melibatkan banyak pihak, mulai dari penulis naskah, sutradara, dubber, editor, dan tenaga terampil lainnya. Lebih dari itu, film animasi juga membutuhkan dana besar. Di sisi lain, dukungan dari pemerintah belum begitu terlihat. “Modal awal kita Rp50 juta. Setiap menang dalam perlombaan hadiahnya kita buat untuk menambah peralatan kerja,” katanya.

Mengikuti ajang Wirausaha Muda Mandiri, menurut Rofiq, menjadi salah satu stimulus keberhasilan usahanya. Selama 2011, misalnya, dia menerima banyak bimbingan dan pembinaan dari Bank Mandiri tentang bagaimana meningkatkan usaha. Lewat program ini, dia juga bisa mengikuti pameran di Singapura dan Malaysia.

“Banyak pengalaman diperoleh saat mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri. Yang penting sekarang ini saya merasa lebih percaya diri setelah bekerja sama dengan Bank Mandiri,” ungkap dia.

Seiring pertumbuhan usahanya, pada 2011 Kdeep Animation diubah menjadi PT Digital Global Maxinema (DGM). Jenis usaha yang ditekuninya pun semakin beragam, mulai dari pembuatan iklan, company profile, serial film animasi untuk tayangan televisi, termasuk pembuatan video klip. Salah satu video klip yang sudah dikerjakan milik grup band Padi berjudul Yang Terluka.

“Karena tuntutan bisnis yang terus berkembang itupula alasan kita pindah kantor,” kata dia. Rofiq menuturkan, semula kantor Kdeep Animation berukuran kecil di Jalan Candi Mendut Selatan No 6 Kota Malang, sekarang di Jalan Kebon Jeruk V No 9, Kota Malang. Rofiq kini juga memimpin 15 orang karyawan.

Tidak hanya itu, selama enam tahun menjalankan usaha, tahun lalu PT DGM meraup omzet Rp1 miliar per tahun. Pada tahun ini Rofiq menargetkan omzet perusahaannya mencapai Rp5 miliar. “Peningkatan kinerja perusahaan ini berkat pembinaan Bank Mandiri,” ujarnya.

Yang membanggakan lagi, selain kantor di Malang yang difungsikan sebagai tempat produksi, PT DGM juga memiliki kantor di Jakarta dan Surabaya. “Kantor di Jakarta sebagai tempat marketing adapun kantor di Surabaya sebagai tempat riset. Target kita tahun ini harus bisa menembus pasar internasional,” papar Rofiq.

Dalam hal ini yang dibidik adalah Singapura. Rofiq mengaku ingin membuka kantor di negeri tetangga itu sebagai bukti karya anak negeri ini tidak kalah dengan produk luar negeri. “Semangat kami termotivasi dari para pendiri Candi Borobudur. Dulu dengan keterbatasan teknologi, para seniman mampu memahat batu menjadi bangunan candi. Relief cerita Ramayana yang terukir di dinding candi Borobudur merupakan contoh sebuah hasil produk animasi. Semangat itulah yang menjadikan kita tetap bersemangat untuk terus berkarya,” papar pria yang mengaku terinspirasi membuat animasi dari kakeknya yang suka mendongeng dan menggambar. 
Source :http://wirausahamandiri.co.id/sukses-5-Achmad%20Rofiq%20:%20Menuai%20Untung%20dan%20Prestasi%20dari%20Film%20Animasi.html

Pelaku Ekonomi Kreatif Curhat ke Menteri Elka

3 Mei 2012  

KEDATANGAN Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Malang dijadikan ajang curhat bagi sejumlah komunitas di berbagai usaha kreatif. Hal ini terungkap ketika Mari menggelar diskusi dengan para komunitas ekonomi kreatif di Hotel Tugu, kemarin.

Hadir dalam pertemuan itu, perwakilan komunitas fashion, komunitas film, komunitas animasi, komunitas fotografi dan komunitas cosplay. Ahmad Rofiq, direktur PT Digital Global Maxinema, salah satu perusahaan di bidang film animasi mengatakan, minat masyarakat utamanya pelajar di dunia animasi sangat tinggi. Hanya saja, mereka tidak mempunyai tempat untuk mengapresiasikan hasil karyanya. “Kami sudah sering kali mem bi carakan masalah ini ke pemkot. Namun belum ada tanggapan sama sekali sampai sekarang. Makanya momen ketemu Bu Menteri (Mari Elka Pangestu) kami sampaikan semuanya,” ujar Rofiq, kemarin.
Padahal dari sisi hasil karya yang sudah dihasilkan dengan melibatkan 20 pelajar SMKN, sudah pernah mendapatkan penghargaan dari Festival Film Indonesia (FFI). Yakni kategori film animasi terbaik tahun 2008 lalu. Selain itu, regulasi pemkot mengenai tayangan lokal kurang berpihak pada industri lokal. Akibatnya, warga Malang sendiri kurang mendapatkan pengetahuan seputar perfilman lokal.
Mari Elka Pangestu berbicara di dalam forum pelaku ekonomi kreatif yang berlangsung di Hotel Tugu
Mari Elka Pangestu berbicara di dalam forum pelaku ekonomi kreatif yang berlangsung di Hotel TuguEny Erawatim, pengelola Warkop Malang, salah satu komunitas fotografi mengatakan, selama ini komunitasnya juga kurang mendapat perhatian dari masyarakat ataupun pemerintah. Padahal, sebenarnya kata Enny, karya foto yang dihasilkan teman-temannya bisa diakui di luar negeri. “Saya sendiri heran, di luar negeri hasil foto kami sangat diakui bahkan dikagumi. Namun, ketika dibawa di Malang, malah kurang mendapat perhatian,” ucap dia.
Sementara itu, Mari Elka Pangestu benjanji kepada para industri kreatif untuk selalu mendukung kreativitas dari para pelaku ekonomi kreatif. Dari kementerian sudah menyediakan sejenis website khusus untuk memperkenalkan produk ekonomi kreatif, terutama di bidang perfilman dan musik.
“Lewat website yang kami sediakan bisa dimanfaatkan para pengusaha untuk mempromosikan hasil karyanya,” kata Mari. Selain itu, juga disediakan link untuk konsultasi dan tips-tips untuk me ngem bangkan ekonomi kreatif. Tak hanya itu, dia juga berjanji kepada para pelaku ekomomi untuk memberikan dana jika memang dibutuhkan.

Syaratnya, mereka bisa mengajukan proposal yang sesuai dengan visi dan misi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. “Kami juga akan membentuk suatu zona kreatif di Malang ini. Karena wilayah Malang ini sangat banyak sekali ditemukan masyarakat yang kreatif,” tandas dia. (gus/ziz/radrmalang)
Keywords: , , , , , , ,

Menjadi Animator, Menadah Rezeki Berlimpah


Rofiq, saat pameran di PPEI (Pameran Produk Ekspor Indonesia) 2005-Kemayoran Jakarta
Terpicu tayangan Ipin dan Upin, profesi animator menadah rezeki berlimpah. Tak cuma datang dari televisi lokal yang mulai mau menayangkan film animasi lokal, tapi juga dari perusahaan film serta proyek outsourcing  dari luar negeri.

Seekor kunang-kunang terbang mendekati anak kecil bersarung. Kabayan, nama anak tersebut, berkata kepada kunang-kunang. “Waduh, aku capek sekali Lip Lap, bagaimana ini?” ujar Kabayan. Melihat cucuran keringat Kabayan, Lip Lap pun memberi semangat sambil terbang memutari kepala Kabayan.

Bagi para penggemar film animasi, adegan tersebut pasti tak asing. Betul, itu adalah salah satu cuplikan episode "Kabayan dan Lip Lap" yang sempat diputar di beberapa stasiun teve lokal, Indosiar dan Global TV.

Sayang, pamor film animasi yang 100% bikinan para animator lokal ini kurang moncer. Kalah jauh dengan pamor film animasi karya negeri jiran, Malaysia, yakni si kembar Ipin dan Upin.

Meski belum banyak film animasi lokal yang beken, toh, banyak animator lokal yang bilang bahwa bisnis animasi di Indonesia mulai menunjukkan gairah perkembangannya. “Serial teve animasi lokal sedang booming, terdorong Ipin dan Upin,” ujar Ahmad Rofiq, seorang pembuat animasi sekaligus pemilik K-Deep Animation.

Menggarap film, klip video, sampai iklan

Dibilang booming, sih, belum, namun pamor profesi pembuat animasi alias animator ikut terangkat. Banyak anim`tor baru lantas bermunculan. Salah satunya Ahmad Rofiq. Pria asal Malang ini mengaku baru menggeluti profesi sebagai animator sejak 2008 silam. Meski belum lama berkecimpung di bisnis ini, Rofiq, sapaan akrabnya, kini mengantongi Rp 40 juta saban bulan dari pemutaran serial televisi animasi Catatan Dian di stasiun televisi Spacetoon.

Itu belum seberapa, Rofiq menghitung, jika Catatan Dian jadi mengudara di Global TV beberapa bulan mendatang, penghasilannya bakal lebih berlipat. Rofiq menyebut, duit yang masuk ke kantongnya diperoleh dari hasil iklan dan sponsorship serial animasi Catatan Dian.

Ada juga Daniel Arief Budiman. Lewat bendera usaha Geppetto Animation Studio, Daniel meraup rezeki dari animasi di televisi. Salah satu karya Geppetto adalah videoklip band Samsons bertajuk Hey Gadis. Harga klip berdurasi lima menit itu dia banderol Rp 100 juta.

Selain klip video, Geppetto juga memproduksi animasi untuk berbagai film Indonesia yang di dalamnya mengandung animasi. Misalnya saja film bertitel Madame X yang disutradarai oleh Nia Dinata. Layar televisi juga dimanfaatkan Geppetto untuk membesut iklan komersial, semisal Semen Gresik, Sari Ayu, Sharp Plasmacluster, dan sebagainya yang juga mengandung animasi. “Jadi, profesi animator sangat menjanjikan karena bisa menghasilkan beragam output produk," tandas Daniel.

Pandangan serupa juga meluncur dari Ardian Elkana, pemilik Castle Production. Castle adalah perusahaan animasi lokal yang bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan (Kemdag) memproduksi serial animasi Kabayan dan Lip Lap. Meski enggan menyebut keuntungan yang dia peroleh secara mendetail, Ardian yakin bahwa animasi merupakan bisnis kreatif yang mampu menghasilkan nafkah gendut.

Mengutip data dari situs http://www.salary.com, penghasilan rata-rata animator di New York, Amerika Serikat, mencapai US$ 55.270 per tahun atau setara dengan Rp 495 juta. Ardian yang pernah bekerja di Amerika Serikat selama tujuh tahun bilang, animator yang baru lulus saja bisa bergaji
US$ 20 per jam.

Asyiknya lagi, animasi juga merupakan industri yang borderless alias tanpa batas. Alhasil, animator bisa menggarap pasar lokal dan pasar mancanegara sekaligus. Ini penting dilakoni untuk jika ingin mendapat pemasukan nan mumpuni.

Tengok saja, saat ini sebagian besar pemasukan Castle (70%) berasal dari proyek-proydk di luar negeri. Sederet proyek luar negeri yang pernah digarap Castle, antara lain Dino Tale, Kingkong, Carlos Caterpillar, dan masih banyak lagi. “Inilah enaknya animator, bisa ikut menggarap proyek animasi luar negeri,” ujarnya.

Tarif Animasi

Pesatnya industri animasi di Negeri Uwak Sam kerap membutuhkan bala bantuan tenaga animator di luar Amerika. Apalagi, upah animator Asia, termasuk Indonesia, jauh lebih murah ketimbang sejawatnya di AS.

Jelasnya begini. Ardian bilang harga proyek animasi dengan standar teknologi tercanggih di kawasan Asia semisal Taiwan dan Korea dibagi ke dalam beberapa tingkat. Kelas A, misalnya, dipatok tarif US$ 150.000-US$ 300.000. Kelas B US$ 50.000–US$ 75.000 dan kelas C mulai dari US$ 25.000. “Tarif animasi lokal bisa sepersepuluh tarif luar negeri,” ungkap dia.

Oh, iya, tarif tersebut dipatok untuk satu episode serial televisi dengan durasi tayang sekitar 15 hingga 30 menit. Catatan saja, tiap episode membutuhkan kerjasama 25 animator, tergantung tahapan pengerjaan. Pada tahap awal, tenaga animator yang dibutuhkan semakin banyak lantaran harus membangun modelling atau karakter.

Nah, agar order pembuatan animasi dari luar negeri lancar, Ardian menyarankan agar animator rajin memajang karyanya di internet sebagai portofolio. Ardian sendiri mengakt kemajuan dunia maya sangat membantunya mengembangkan pasar hingga ke luar negeri.

Namun, bila ikut menggarap proyek luar negeri yang biasa disebut proyek outsource, animator harus rela namanya tidak tercantum di credit title.

Maklum, proyek outsource sering disebut sebagai tukang jahit lantaran hanya membikin sesuai dengan pesanan saja pada bagian tertentu dalam film. “Tapi risiko yang ditanggung animator lebih minim di proyek pesanan dibandingkan dengan proyek full. Duitnya juga besar,” ujar Ardian.

Lihat saja biaya produksi film Amerika berjudul Avatar. Kantor berita Bloomberg mencatat, film animasi itu disebut-sebut menghabiskan biaya produksi mencapai US$ 200 juta lantaran ongkos pembuatan animasinya yang membengkak.

Para animator juga bisa mendiversifikasi produk ke ranah lain, misalnya games. Animator bisa beroleh untung dari penjualan karakter. Rofiq mengaku mematok royalti 20% dari penjualan aksesori berupa boneka, tas dan merchandise lain dari karakter Dian, tokoh utama serial animasinya, Catatan Dian. “Serial televisi bisa berhenti tapi bila tokoh masih dikenal masyarakat, bisnis merchandise animasi akan berlangsung lama seperti tokoh Tom and Jerry,” imbuh Rofiq. (kontan-2010)